Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

dalam Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan

Gerakan Pramuka Indonesia

(dalam proses pembinaan pramuka usia siaga 7-10 tahun)

Latar belakang

Sebagai makhluk sosial manusia tidak terlepas dari hubungannya dengan manusia lainnya. Apa yang ia lakukan dan apa yang sampaikan akan selalu bersinggungan dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Pelbagai kebutuhan pokok, misalnya, makan, minum, berpakaian, mencari pekerjaan, dan lain-lain. Kesemua kebutuhan tersebut akan dan hanya akan terpenuhi jika ia melakukan transaksi dan komunikasi dengan manusia lainnya.

Komunikasi dan transaksi yang terjalin tersebut lebih dikarenakan aspek primer yang menjadi hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Untuk memenuhi kebutuhannya tersebut, ia membutuhkan bantuan orang lain. Berangkat dari sifat dasar manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan inilah kebutuhan untuk berkomunikasi pun harus digenapi.

Kebutuhan komunikasi ini dibangun dan dikonstruksi serta mengalami internalisasi sejak kecil. Ketika mengalami fase bayi atau balita, seyogyanya seorang anak telah mendapat pelajaran komunikasi oleh kedua orangtuanya. Bagaimana cara mengucapkan huruf, bagaimana memanggil “mama’, atau bagaimana instruksi lapar maupun marah. Menariknya, anak-anak memiliki kemampuan mengingat jauh lebih besar dari orang dewasa, hal ini karena memori anak-anak masih kosong dan belum terdistrosi oleh memori atau pengalaman-pengalamannya di dunia.

Gerakan pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang diakui oleh Negara Republik Indonesa (berdasar Kepres No. 283 Th 1961) memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan Pramuka juga memiliki posisi strategis mengingat Pramuka adalah kegiatan pendidikan nonformal di luar sekolah. Hal inilah yang kemudian menjadikan pramuka berguna dan berjasa besar menjadi media pembelajaran anak-anak.

Bagaimana Pramuka menerapkan metode pendidikannya kepada anak didik usia siaga (sekira kelas 1 s.d kelas 4 SD)? Bagaimana konsep learning by doing yang juga merupakan konsep orality dan literacy diterapkan? Di sini tampak jelas terjadinya proses hibridisasi antara kedua konsep tersebut. Hal ini dikarenakan pramuka memiliki metode pembelajaran yang menyentuh dan menggunakan multi indera. Misalnya pembelajaran sandi-sandi dan tanda arah. Selain itu proses pengenalan dan pendidikan nasionalisme pun tidak melulu diajarkan secara konvensional tetapi menggunakan game dan lagu-lagu.


Rumusan Masalah

Bagaimana konsep orality dan literacy diterapkan dalam prinsip kepramukaan dan metode kepramukaan dalam proses pembinaan pramuka usia Siaga?

Tujuan

1. Mengetahui prinsip kepramukaan dan metode kepramukaan yang menerapkan konsep orality dan literacy dalam membina Pramuka usia Siaga.

2. Mengetahui metode efektif dalam membina anak-anak.

3. Mengetahui altenatif pengajaran peserta didik di luar sekolah dengan metode menarik.

Manfaat

1. Memberikan deskripsi dan narasi bahwa orality dan literacy sangat penting ditanamkan pada anak-anak sejak dini, dalam hal ini, melalui proses pembinaan pramuka usia siaga.

2. Bermanfaat bagi kajian


Pembahasan

Pengertian Komunikasi

Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 b), Mathematical Theory of Communication.

Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.

Model Komunikasi dalam Proses Pembinaan

Salah satu konseptualisasi dalam memahami komunikasi mengatakan bahwa komunikasi adalah tindakan satu arah. Komunikasi dianggap suatu proses linear yang dimulai dengn sumber atau pengirim dan berakhir pada penerima, sasaran atau tujuannya (Mulyana, 2003: 61). Dari konsep ini lahirlah kemudian beberapa model komunikasi, salah satunya adalah model Laswell.

Model ini dikemukakan Harold Laswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komuniaksi dan fungsi-fungsi yang diembannya dalam masyarakat. Fungsi tersebut adalah: pengawasan lingkungan – mengingatkan anggota masyarakat akan bahaya dan peluang daldm lingkungan; korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat dalam merespon lingkungan; transmisi wariasan sosial dari satu generasi ke generasi lainnyana (Ibid: 136). Dalam model Laswell dikemukakan bahwa proses komunikasi terdiri dari beberapa komponen yang saling berhubungan, yaitu:

- Who : Orang yang menyampaikan pesan (komunikator)

- Says What : pesasn yang disampaikan (message)

- To Whom : penerima pesan (Komunikan)

- In which channel : saluran yang digunakan (channel)

- with what effect : efek yang timbul akibat proses komunikasi

Model Laswell ini sering diterapkan dalam komunikasi massa karena model ini menyangkut pembahasan terhadap media (analisi media) yang akan memberikan suatu referensi suatu penelitian terahdap media massa. Dalam konteks pembahasannya, model ini sering dikritik karena model ini tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan (ibid: 137).

Definisi klasik lain adalah dapat kita ambil dari Wilbur Schramm sbb:

message

Sender receiver

channel

feedback

(Endang, 1993: 23)

Model komunikasi ini adalah juga sering diterapkan dalam proses pembinaan pramuka siaga. Seperti diketahui bahwa usia siaga merupakan usia aktif anak-anak dalam mencari informasi sebanyak-banyaknya. Maka terkadang, komunikasi linear menjadi solusi dalam memenuhi tuntutan informasi yang diinginkan oleh peserta didik.

Komunikasi ke Atas Melalui Konsep Orality dan Literacy

Komunikasi ke atas dapat berbentuk laporan tertulis dan dapat berbentuk laporan lisan masing-masing dengan kelebihan dan kelemahan.

1. Komunikasi secara tertulis

Instruksi secara lisan dapat menyebabkan pelaksanaan tanggung jawab staf/bawahan menjadi kurang optimal, maka diambil satu keputusan dari pimpinan semua pesan penting dilakukan secara tertulis dan timbul slogan “Tuliskanlah, jangan katakan”. Instruksi tersebut membuat komunikasi dalam organisasi menjadi sangat kaku dan tidak praktis. Komunikasi secara tertulis sangat melelahkan dan menjemukan, kering dan menekan.

2. Komunikasi secara lisan

Komunikasi ke atas secara tertulis sangat penting terutama untuk dokumentasi dan evaluasi kerja yang mengarah pada perbaikan dan kemajuan organisasi, tentu saja tidak semua komunikasi dilakukan secara tertulis.

„ Keuntungan laporan tertulis

Laporan ke atas secara lisan mempunyai keuntungan di antaranya adalah sebagai berikut :

m Tidak banyak menyita waktu dalam persiapan dan aliran Iinformasi

m Terjalin komunikasi dua arah antara kita dengan “atasan”.

„ Kelemahan laporan lisan adalah :

ü Perlu ketelitian dalam persiapan agar interaksi justru memerlukan waktu yang lebih panjang dan energi yang lebih besar dibanding dengan laporan tertulis.

ü Jangan terlalu emosional melaporkan yang dapat mengakibatkan kita tidak dapat membedakan antara fakta dan pendapat.

Komunikasi Verbal (Oral dan Lieracy)

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara oral atau lisan maupun secara tulisan (Muhammad, 2001 : 95).

Dengan demikian ada dua jenis komunikasi verbal yakni komunikasi lisan dan komunikasi tulisan.

· Komunikasi lisan adalah suatu proses di mana pembicara berinteraksi secara lisan dengan pendengar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima. Komunikasi lisan dapat berupa : instruksi, laporan lisan, pembicaraan untuk mendapatkan persetujuan kebijaksanaan. Suatu komunikasi lisan yang berhasil harus memperhatikan faktor berikut : pemilihan subyek atau tema pembicaraan, menentukan tujuan, menganalisis pendengar, mengumpulkan materi dan menyusunnya serta praktek berbicara di depan orang lain.

Contoh jelas dalam menerapkan konsep ini adalah pengunaan metode nyanyian dan tepukan yang sebetulnya berisi materi pengajaran dan pendidikan. Ini sangat efektif dilakukan mengingat usia siaga masih gemar bernyanyi dan berlari.

· Komunikasi tulisan yakni penyampaian informasi melalui simbol-simbol yang dituliskan pada kertas atau tempat lain yang sekiranya dapat dibaca. Komunikasi tertulis itu dapat berupa : surat, memo, buku petunjuk, buku bacaan, suratkabar, majalah, gambar, laporan. Yang perlu diperhatikan dalam komunikasi tulis ini adalah : penampilan pesan tulisan maupun kertasnya, pemilihan kata-kata yang digunakan, isi yang ringkas, lengkap, jelas dan memperhatikan kaidah kesopanan.

Contoh jelas adalah bagaimana peserta didik diajarkan mencari tanda jejak dan memecahkan sandi atau kode untuk menerima sebuah instruksi.

Penggunaan Bahasa Usia Anak-anak

Kata-kata merupakan unsur dasar bahasa sehingga ia merupakan simbol verbal. Simbol didefinisikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk atau dipandang sebagai wakil sesuatu lainnya. Misal kata “matahari” menunjukkan bintang yang menjadi pusat tata surya. Pada awalnya tidak ada asosiasi antara kata yang kita sepakati untuk menyebutkan sesuatu dengan referennya, obyek yang dinyatakan oleh kata tersebut. Menurut Ferdinand de Saussure, bahasa adalah sistem tanda yang mengekspresikan gagasan dan untuk itu dapat disamakan dengan sistem penulisan alfabet bisu tuli, ritus simbolik, bentuk-bentuk kesopanan, simbol-simbol, fashion dan lan-lain. Sedang menurut Kertopati (1986 : 112) bahasa didefinisikan dalam pengertian :

a. Secara luas, bahasa adalah suatu alat bagi manusia di dalam menyatakan perasaan, pikiran, pendapat, keinginan, dan sebagainya dengan memberikan tanda-tanda yang terang dan dapat diartikan.

b. Secara sempit, bahasa adalah susunan kata yang teratur yang diucapkan atau ditulis dan mempunyai arti atau maksud tertentu.

Bahasa dapat disampaikan dalam bentuk lambang. Sedang lambang sendiri dapat berupa lambang verbal dan lambang nonverbal. Lambang verbal berupa kata-kata yang bisa disampaikan dalam bentuk syair, pantun, nyanyian, dongeng dan sebagainya.

Permasalahan bahasa

· Bahasa abstrak. Penggunaan bahasa abstrak seringkali menimbulkan kesulitan komunikasi karena ketidakjelasan kata-kata yang dipakainya.

· Inferensi, adalah suatu kesimpulan atau penilaian yang diperoleh dari bukti atau asumsi.

· Dikotomi yakni kata-kata yang bertolak belakang.

· Eufemisme, mengganti istilah yang lugas dengan istilah lain yang agak halus, sama atau tidak terlalu emosional.

· Bahasa ekuivokal, yakni memiliki dua atau lebih interpretasi.

Makna

Suatu kata akan memiliki makna jika diasosiasikan dengan referennya. Ada dua pengertian mengenai makna ini yakni denotasi dan konotasi.

a. Denotasi, merujuk pada asosiasi primer yang dimiliki sebuah kata bagi kebanyakan anggota suatu masyarakat linguistik tertentu. Kata-kata yang bersifat denotatif adalah yang mengandung makna sebagaimana tercantum dalam kamus dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang yang sama dalam kebudayaannya dan bahasanya.

b. Konotasi, merujuk pada asosiasi sekunder yang dimiliki sebuah kata bagi seseorang atau lebih anggota masyarakat itu. Kata-kata yang mengandung pengertian konotatif adalah yang mengandung makna emosional atau evaluatif disebabkan oleh latar belakang kehidupan dan pengalaman seseorang.

Makna menurut Brodbeck dibagi dalam tiga corak (Rakhmat, 1991 : 277-278):

a. Makna inferensial yaitu makna satu kata (lambang) adalah obyek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut.

b. Makna yang mengandung arti (significance) sesuatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain.

c. Makna intensional yakni makna yang dimaksud oleh pemakai lambang

Kegiatan manusia untuk mengekspresikan gagasan dalam bentuk bahasa disebut representasi. Representasi ini merupakan kegiatan memproduksi makna melalui bahasa. Dalam kamus, representasi dipahami :

· Untuk mengartikan sesuatu yakni menjelaskan atau menggambarkannya dengan memunculkannya dalam pikiran dengan sebuah gambaran imajinasi untuk menempatkan persamaan ini sebelumnya dalam pikiran atau perasaan kita.

· Representasi digunakan untuk menjelaskan (konstruksi) dalam seluruh proses pengkonstruksian makna.

Penyebaran pemetaan konseptual diterjemahkan dalam bahasa umum, sehingga bisa menghubungkan konsep dan ide dengan kata dan tulisan tertentu, citra (image) suara dan visual. Pemahaman umum yang dipakai seperti kata-kata, suara, atau citra yang mengandung makna disebut simbol. Simbol mengandung makna yang digunakan untuk merepresentasikan konsep. Berkaitan dengan proses pemaknaan dalam budaya, menurut Hall, ada dua sistem representasi yaitu :

· Representasi memungkinkan kita untuk memberikan makna dalam fakta dengan membangun seperangkat korespondensi atau rangkaian hubungan beberapa hal tentang manusia, obyek, peristiwa, ide abstrak dan lain-lain dalam sistem konsep kita.

· Sesuai konstruksi, seperangkat korespondensi antara pemetaan konseptual dan seperangkat simbol kita, diarahkan atau diatur dalam bahasa yang bermacam-macam yang merepresentasikan konsep kita. Hubungan antara sesuatu, konsep dan simbol adalah inti dari produksi makna dalam bahasa. Proses yang melibatkan tiga unsur ini disebut representasi.

Makna yang sudah dikonstruksi melalui representasi akan lebih mudah dipahami lagi lewat kode-kode. Kode adalah pola atau aturan yang sangat kompleks dari asosiasi-asosiasi yang kita pelajari dalam masyarakat dan budaya kebanyakan. Kode merupakan struktur rahasia dalam pikiran kita, mempengaruhi cara kita menginterpretasikan tanda dan simbol yang ditemukan dalam media dan cara hidup kita. (Berger, 1983 : 34).

Menurut Burton (1990 : 27) kode adalah sekumpulan tanda dalam bentuk yang spesifik seperti tuturan, tulisan dan gambar visual. Fiske mengungkapkan bahwa kode merupakan sistem di dalam tanda yang telah diatur dan diorganisasikan, di mana sistem itu ditentukan oleh aturan-aturan yang disetujui oleh seluruh anggota komunitas yang menggunakan kode tersebut. Sedang Arthur Berger, mengungkapkan aspek-aspek lain tentang kode yaitu :

· Karakteristik kode : koherensi, tersembunyi, lebih jelas, mengandung fakta, berkesinambungan, komprehensif.

· Manifestasi kode : personalitas (dalam psikologi), aturan sosial (dalam psikologi sosial), institusi (dalam sosiologi), ideologi (dalam politik), dan ritual (dalam antropologi).

· Masalah kode : penciptaan kode, manifestasi kode, pengkonflikan kode, kode dan aturan.

· Kode-kode dalam budaya populer : formula dalam cerita, spionase, cerita detektif, musik pop dan sebagainya.

· Ritual : minum di bar, pemberian kado, kencan.

Pembinaan di dalam Gerakan Pramuka

Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka bahwa Gerakan Pramuka adalah satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan Pramuka juga merupakan lembaga pendidikan non-formal (di luar sekolah).

Pendirian Gerakan Pramuka sendiri didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan. Salah satunya adalah perlunya pendidikan untuk mewujudkan manusia dan warga negara Republik Indonesia yang berkepribadian dan berwatak luhur yang cerdas, cakap, terampil, rajin, yang sehat jasmaniah dan rohaniah, yang ber-Pancasila dan setia patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan yang berpikir dan bertindak atas landasan-landasan Manusia Sosialis Indonesia, sehingga dengan demikian anak-anak dan pemuda Indonesia menjadi kader pembangunan yang cakap dan bersemangat bagi penyelengaraan Amanat Penderitaan Rakyat.

Pendirian gerakan ini sendiri ditetapkan pada waktu yang tidak ditentukan dan merupakan lanjutan dari pergerakan kepanduan nasioanl, dibentuk karena dorongan kesadaran bertanggung jawab atas kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan Pancasila, Gerakan Pramuka menyelenggarakn upaya pendidikan bagi kaum muda melalui kepramukaan, dengan sasaran meningkatkan sumber daya kaum muda, mewujudkan masyarakat madani, dan melestarikan keutuhan:

- negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika; ideologi Pancasila;

- kehidupan rakyat yang rukun dan damai;

- lingkungan hidup di bumi nusantara.

Maka dalam upaya meningkatkan dan melestarikan hal tersebut di atas, Gerakan Pramuka menyelenggarakan pendidikan non-formal, melalui kepramukaan, sebagai bagian pendidikan nasional yang dilandasi sistem among dengan prinsip dasar dan metode Kepramukaan.

Prinsip Dasar Kepamukaan dan Metode Kepramukaan

Dalam pasal 10 Anggaran Dasar Gerakan Pramuka disebutkan bahwa Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan merupakan ciri khas yang membedakan kepramukaan dengan pendidikan lain. Prinsip dan metode kepramukaan itu selalu diterapkan di setiap kegiatan kepramukaan. Pelaksanaan atau penerapan keduanya disesuaikan dengan kepentingan, kebutuhan, situasi, dan kondisi masyarakat.

Prinsip Dasar Kepramukaan:

a. iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b. peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya

c. peduli terhadap diri pribadinya

d. taat kepada Kode Kehormatan Pramuka

Prinsip Dasar Kepramukaan berfungsi sebagai:

a. norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka

b. landasan Kode Etik Gerakan Pramuka

c. landasan sistem nilai Gerakan Pramuka

d. pedoman dan arah pembinaan kaum muda anggota Gerakan Pramuka

e. landasan gerak dan kegiatan Gerakan Pramuka mencapai sasaran dan tujuannya

Metode Kepramukaan:

a. pengamalan Kode Kehormatan Pramuka

b. belajar sambil melakukan

c. sistem berkelompok

d. kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik

e. kegiatan di alam terbuka

f. sistem tanda kecakapan

g. sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri

h. kiasan dasar

Konsep Literacy dan Orality dalam Proses Pembinaan

Dalam membina seorang anak kecil gerakan pramuka memiliki metode yang disesuaikan dengan usia, tingkat kecerdasan, yang salah satunya adalah learning by doing. Anggota Gerakan Pramuka terdiri atas:

1. anggota biasa

a. anggota muda: Siaga, Penggalang, dan Penegak

b. anggota dewasa:

1. anggota dewasa muda: Pandega

2. angota dewasa: Pembina, Pembantu pembina, Pelatih Pembina, pembina profesional, pamong saka, instruktur saka, pimpinan saka, andalan, pembantu andalan, angota majelis pembimbing

2. anggota kehormatan

a. anggota dewasa purna bakti

b. orang-orang yang bersimpati dan berjasa kepada Gerakan Pramuka

c. warga negara asing dapat bergabung dalam suatu gugusdepan sevbagai anggota tamu

Dari klasifikasi keangptan Pramuka tersebut, ternyata Parmuka usia siaga masuk dalam kategori parmuka usia muda. Selain itu, kategori pramuka usia siaga adalah usia antara 7-10 tahun. Dan kebanyakan anak didik sekolah yang berusia antara rentang waktu itu adalah mereka yang duduk di kelas 1 sampai kelas 4 Sekolah Dasar.

Realitas Sosial: Bagian dari Pembelajaran Literasi Pembinaan

Realitas sosial terkait dengan dinamika kehidupan masyarakat. Apa yang terjadi dan telah terbentuk rapi, baik itu struktur sosial, nilai, tata aturan, adat-istiadat, dan norma, adalah realitas atau fakta di lapangan. Emile Durkhaim (1858 – 1917), ahli Sosiologi, mendefinisikan fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya.

Contoh konkret realitas sosial ini berupa hukum, moral, kepercayaan, kaidah ekonomi, dan lain-lain. Fakta sosial ini secara langsung maupun tidak langsung memaksa setiap individu untuk menaatinya, ada seperangkat sanksi yang akan dikenakan apabila itu dilanggar. Maka kekuatan di luar individu inilah yang mengharuskan mereka untuk melakukan sesuai dengan apa yang diharapkan di luar. Misalnya etika dan norma adat. Semenjak bayi, seseorang telah diajari bagaimana berjalan, berlari, bernyanyi, cara makan, dan lain-lain. Tindakan-tindakan ini tentunya bukan bersumber pada diri individu itu, melainkan ada kekuatan luar yang memaksanya untuk melakukan tindakan tersebut.

Sementara di dalam Gerakan Pramuka ada seperangkat etika yang bernaam Kode Kehormatan. Di dalam Kode Kehormatan tersebut terdapat nilai-nilay yang harus ditaati oleh setiap anggotanya sejak ia telah dilantik menjadi anggota Gerakan Pramuka. Apabila ada yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan tersebut, maka ia akan mendapatkan sanksi. Baik sanksi moral maupun sanksi berupa tindakan fisik yang mungkin akan dilakukan oleh masyarakat di lingkungannya.

Perilaku Sosial: Landasan Proses Interaksi Anatar Pembina dan Peserta Didik

Semua perilaku atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang disebutkan oleh Max Weber (1864 – 1920) mempunyai dua macam orientasi. Yang pertama, suatu tindakan yang dilakukan atas dasar orientasi diri sendiri dan keinginan pribadi dengan mengabaikan orang lain. Artinya ia melakukan suatu tindakan untuk dirinya sendiri. Yang kedua, suatu tindakan yang dilakukan atas dasar orientasi pada perilaku orang lain. Weber menyebutnya sebagai tindakan sosial, yaitu tindakan pelaku yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, berorientasi pada perilaku orang lain, dan mempunyai makna subjektif baginya.

Contoh tindakan atau perilaku sosial ini misalnya perilaku peserta didik usia siaga yang hanya menghadiri jadwal latihan Pramuka karena untuk memnuhi tuntutan kewajiban akademik saja. Karena tindakan yang dilakukannya (secara tidak langsung) hanya untuk memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh sekolahnya. Atau ketika ujian semester tiba bagi mahasiswa, ia belajar yang rajin untuk mendapatkan Indeks Prestasi tinggi, hanya untuk memenuhi keinginan orangtuanya agar ia menjadi anak yang sukses. Namun, apabila ia belajar tanpa ada tuntutan dari orangtuanya-hanya untuk kepentingan dia pribadi, maka perilaku tersebut bukanlah perilaku sosial.

Perubahan Sosial

Perubahan sosial terkait dengan statika dan dinamika sosial. Keadaan masyarakat yang cenderung berkembang berkonsekuensi pada perubahan struktur sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Perubahan sosial ini terkait dengan stratifikasi dan differensiasi sosial. Namun, yang mengalami perubahan sosial ada pada tataran stratifikasi sosial yang melalui mekanisme mobilitas sosial.

Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial dalam masyarakat memiliki keberagaman jenis dan permasalahan. Masalah-masalah tersebut seperti finansial, pendidikan, pekerjaan, yang kesemuanya memiliki tingkatan (hierarki) tertentu. Seseorang yang dulunya berada pada tingkat ekonomi yang miskin, akan mengalami perubahan

Perubahan sosial ini sangat erat kaitannya dengan sistem penjenjagan yang ada di dalam Gerakan Pramuka. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa Gerakan Pramuka memiliki batasan dan tahapan yang jelas. Maka sebetulnya, Pramuka (atau anggota Pramuka) selalu mengalami perubahan dan transformasi social baik ia sebagai individu maupun sebagi bagian dari kelompok.

Penutup

Hibridisasi konsep orality dan literacy dalam proses pembinaan Pramuka usia siaga memang tidak dapat dihindarkan. Karena di setiap aktivitas yang dilakukan oleh Gerakan Pramuka selalu menggunakan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan Gerakan Pramuka Indonesia yang di dalamnya terdapat multi fungsi dari hibridisasi itu.

Penggunaan sandi, kompas, tanda kecakapan, nyanyian dan lagu, yang juga merupakan ciri khas organisasi ini adalah beberapa di antara metode yang merupakan bagian dari hibridisasi. Hal inilah yang kemudian membuat Gerakan Pramuka memiliki peranan penting dan menduduki posisi strategis dalam proses pencerdasan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan dalam AD/ART-nya. Merujuk padapemahaman ini, semoga perjuangan kakak-kakak di tingkat Kwartir Nasional dalam mendesak DPR untuk merancang Undang-Undang Gerakan Pramuka, segera tecapai. Semoga!


DAFTAR PUSTAKA

ANGGARAN DASAR dan ANGGARAN RUMAH TANGGA GERAKAN PRAMUKA.

Effendy, Onong Uchjana. (2003). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Effendy, Onong Uchjana. (1992). Spektrum Komunikasi. Bandung: Penerbit Mandar Maju

Fiske, John. (1999). Introduction To Communication Studies. 2nd Edition. London: Guernsey Press Co Ltd

About these ads

6 responses to “Hibridisasi Konsep Orality dan Literacy

  1. terima kasih banyak, karena kebetulan saya perlu ini untuk tugas kuliah, saya kopi untuk bahan tugas kuliah

    thank’s

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s