Strategi Kebudayaan


(Sebuah Bagan Tahapan Kebudayaan)

 

Dewasa ini, kebudyaan sudah berkembang sedemikian pesatnya. Kebudayaan tidak hanya dipahami sebagai hasil budi daya manusia, tetapi lebih jauh, manusia melihat bebagai macam aspek dan sudut pandang dalam memahami kebudayaan tersebut. Berbagai pendekatan pun bermunculan dalam mempelajari dan memahami kebudayaan. Dahulu, kebudayaan dipahami hanya sebatas segala macam manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan bersifat rohani, seperti agama, filsafat, kesenian, tata negara, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Tetapi pendapat tersebut sudah tidak dipakai lagi. Saat ini, kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang yang berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja di tengah-tengah alam, melainkan selalu mengubah alam itu.

Maka kebudayaan sudah semestinya bersifat dinamis, tidak statis dalam pemahamannya. Lebih lanjut, kini kebudayaan diibaratkan kata kerja yang selalu bergerak, bukan kata benda yang statis dan tidak berubah-ubah. Selain itu, kebudayaan sebagai ketegangan antara imanensi dan tradensi dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia seluruhnya Arus proses-proses kehidupan (imanensi) yang mengelilingi hidup manusia menuntut manusia harus bertindak aktif dan berkembang. Ia tidak boleh diam dan dibawa oleh arus tersebut. Tetapi kadang juga muncul dari arus alam itu untuk menilai alamnya sendiri dan mengubahnya “(transendensi).

Perkembangan kebudayaan itu melalui berbagai tahapan. Di setiap tahapan tersebut menunjukkan berbagai macam kebudayaan yang (mungkin) berlainan. Setiap kebudayaan dapat dipandang sebagai suatu rencana tertentu, suatu policy atau kebijaksanaan tertentu. Manusia yang hidup di zaman dulu akan berbeda kebijaksanaannya dengan manusia modern saat ini. . Tahapan perkembangan kebudyaan dalam hal ini terbagi tiga yaitu tahap mitis, tahap ontologis, dan tahap fungsionil. Tahap mitis ialah tahap dimana manusia masih dikuasai oleh sifat-sifat alam, gaib, dan mistis. Sehingga pola pikirnya belum begitu berkembang. Tahap ontologis ialah tahap yang lebih maju dari mitis, di mana manusia tidak terkekang lagi tetapi sudah bebas berkembang dan meneliti segala macam hal-ikhwal. Sedangkan tahap ketiga atau fungsionil ialah sikap dan alam pikiran yang menuju pada sikap manuisa modern. Ia tidak terjebak pada pesona alamnya (mitis), tidak lagi menjaga jarak terhadap objek yang diteliti (ontologis), tetapi lebih dari itu, ia mencoba membangun relasi-relasi baru , sebuah kebertautan baru dengan lingkungannya.

 

 

About these ads

One response to “Strategi Kebudayaan

Komen dong kakak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s